Literature

Pisau Terbang Li
Bab 21. Sahabat yang Dapat Dibanggakan

Yi Ku berdiri di samping tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya.

Setelah beberapa saat, Lin Xian Er tersenyum padanya. “Kini kau tahu bahwa aku memang layak, bukan?”

Kata Yi Ku, “Seharusnya aku membunuhmu. Kalau tidak, aku tidak tahu berapa banyak orang yang akan mati di tanganmu.”

Kata Lin Xian Er, “Pada awalnya kau memang berniat membunuhku, bukan?”

“Hmmmh.”

Ia masih tersenyum manis. “Namun kini kau tidak tega membunuhku, bukan?”

Yi Ku hanya memandangnya, lalu bertanya, “Siapa anak yang datang bersamamu itu?”

Lin Xian Er tertawa. “Kenapa? Kau cemburu? Atau takut?”

Matanya berputar. Lanjutnya, “Ia adalah anak yang baik, tidak nakal seperti engkau. Ia sudah tidur di kamarnya sendiri. Jika [...]

dodokins 12 hours 26 minutes   3 Comments
Literature

Pisau Terbang Li
Bab 20. Hati Manusia Tidak Terselami

Genta di kuil itu terus berkumandang. Tanda bahwa seorang pendeta telah wafat.

Dalam angin musim dingin yang menusuk, Li Xun Huan terus terbatuk-batuk. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa marah, menyesal, atau sedih.

Ketika ia berhenti batuk, dilihatnya para pendeta itu memasuki halaman kecil dekat situ. Wajah mereka sedingin es.

Mereka menatapnya dengan mulut terkunci. Suara genta pun telah lenyap. Suasana sungguh hening, kecuali suara langkah kaki di atas salju.

Ketika suara langkah itu akhirnya berhenti, Li Xun Huan merasa tubuhnya diselimuti oleh lapisan es yang tebal.

Kata Xin Hu, “Adakah yang ingin kau sampaikan?”

Li Xun Huan berpikir lama. “Tidak.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Seharusnya [...]

dodokins 12 hours 27 minutes   3 Comments
Literature

Pisau Terbang Li
Bab 19. Aneh tapi Nyata

Xin Mei yakin bubur itu tidak beracun, namun bagaimana pun juga, ia adalah seorang pendeta. Jadi sewaktu Tian Qi sudah menghabiskan mangkuknya, ia masih pada suapan kedua.

Tian Qi tersenyum. “Dengan kecepatan seperti ini, kita akan tiba di Gunung Song besok pagi.”

Xin Mei juga terlihat lega. Katanya, “Akan ada murid-murid yang menyambut kita satu dua hari ini. Selama….”

Tiba-tiba ia berhenti bicara. Tubuhnya gemetar hebat, dan mangkuknya terjatuh dari tangannya. Buburnya tumpah membasahi bajunya.

Wajah Tian Qi memucat. “Pendeta…. Kau…”

“Ada racun dalam bubur ini?”

Xin Mei menghela nafas. Tidak sanggup bicara.

Tian Qi mencekal baju Li Xun Huan. “Lihat wajahku. Apakah wajahku….”

Lalu ia terdiam, karena [...]

dodokins 12 hours 28 minutes   3 Comments
Literature

War of The Dragons (Perang Bangsa Naga)
Bab 38. Pertempuran di Langit

dragon-1024x768-6.tn.jpg

Bab 38. Pertempuran di Langit

Ratusan Naga berwarna kuning terbang di angkasa membentuk semacam formasi tempur. Sementara di sisi lain ratusan naga berwarna biru juga melakukan hal yang sama. Kedua Bangsa Naga itu meluncur bersamaan dan dengan kecepatan penuh saling mendekat satu sama lain. Naga Kuning memulai serangan terlebih dahulu dengan menghembuskan angin badai yang dapat mencabut pohon besar hingga ke akar – akarnya. Naga Biru membalas dengan menyemburkan air keras dari moncongnya yang mampu melumerkan baja tebal. Angin dan air pun beradu di udara. Sebagian naga tumbang karena tercabik angin badai, sebagian lagi tumbang karena tersiram air keras hingga [...]

warbots 7 August 14:24   28 Comments
Literature

War of The Dragons (Perang Bangsa Naga)
Bab 37. Kekuatan Pengharapan

dragon-1024x768-6.tn.jpg

Bab 37. Kekuatan Pengharapan
Marmon sungguh tidak menyangka bahwa manusia yang semula sekarat hingga tidak dapat menggerakkan satu jari pun kini berdiri dengan kekuatan penuh di hadapannya. ‘Kau! Bagaimana mungkin kau dapat pulih secepat ini?’ Tanya Marmon tak percaya karena Jack tiba – tiba sudah berdiri tegak di hadapan Marmon.
‘Karena aku memang belum ditakdirkan mati hari ini, iblis!’ Teriak Jack,’ Matilah kau! Iron Fist!’ Sebuah Tinju Cahaya pun meluncur ke arah Marmon.
Marmon yang tengah terluka dalam masih sanggup mengeluarkan Jurus Pusaran Gelombang Hitam agar dapat menyerap energi serang Iron Fist untuk serangan balik. Tetapi serangan Iron Fist [...]

warbots 7 August 14:22   28 Comments
Literature

Golok Kelembutan
10. Manusia dan ikan

golok kelembutan.tn.jpg

Bila empat orang yang sudah biasa berkumpul, lalu pada suatu hari tiba-tiba rombongan itu kehilangan satu orang, bagaimanakah perasaannya waktu itu?
Jangan kan manusia, sebuah cincin pun terkadang bisa mendatangkan perasaan yang tak enak, mungkin di saat pertama kali mengenakannya, kau akan merasa tak leluasa, tapi bila sudah terbiasa mengenakannya, bila suatu ketika harus dilepas kembali, pasti akan merasa sangat kehilangan.

Terlebih kalau dia bukan sebuah cincin.

Terlebih jika dia adalah seorang gadis cantik.

Seorang gadis yang masih polos, lembut, halus, terkadang pipinya bisa berubah merah jengah, terkadang nampak sedikit gelisah.

Hari itu dia telah pergi, pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Dapat dibayangkan, bagaimana perasaan [...]

bintang73 7 August 12:49   9 Comments
Literature

Golok Kelembutan
9. Angin, rembulan, bayangan manusia

golok kelembutan.tn.jpg

Kini suasana di atas perahu pesiar itu sudah pulih dalam ketenangan. Dari lima orang dayang yang ikut dalam perjalanan ini, empat di antaranya berhasil lolos dari maut, namun mereka sudah telanjur dibuat ketakutan setengah mati.

Dari delapan orang pengawal yang ikut di atas perahu itu, enam orang di antaranya tewas karena terkena obat pembius dalam kadar yang banyak, sisanya dua orang harus diguyur air dingin berulang kali sebelum akhirnya tersadar kembali.

Di antara mereka, hanya gadis cantik bak bidadari itu yang tetap bersikap tenang, ia perintahkan para pembantunya untuk menolong rekannya, memasang lentera dan membersihkan ru¬angan, kemudian setelah berterima kasih kepada Pek [...]

bintang73 7 August 12:43   9 Comments
Literature

Golok Kelembutan
8. Perempuan cantik di tengah sungai

golok kelembutan.tn.jpg

Riak air di permukaan sungai Han-swe nampak tenang bagaikan cermin, sedemikian tenangnya hingga memantulkan bayangan perahu, gunung, lentera dan pepohonan di atas permukaan sungai.

Yang tak nampak justru hanya bayangan manusia.

Sebagian besar penghuni perahu itu sudah terlelap tidur.

Hanya ada dua tiga buah lentera yang tergantung di atas tiang, memancarkan cahayanya yang redup.

Suasana di sepanjang tepi sungai hening dan amat sepi, hingga saat itu Un Ji belum juga balik kembali ke atas perahu.

Di kejauhan sana terlihat ada orang sedang tidur, dengkurnya tenang penuh damai.

Di ujung jembatan ada orang sedang meniup seruling, menemani rembulan, bercermin permukaan air.

Un Ji wahai Un Ji, kemanakah kau [...]

bintang73 7 August 9:45   9 Comments
Literature

Golok Kelembutan
7. Manusia dalam impian

golok kelembutan.tn.jpg

Dengan kening berkerut, Un Ji siap melolos goloknya. "Jangan mencabut senjata," buru-buru Pek Jau-hui mencegah, "kali ini yang datang adalah para opas dari pengadilan." "Mau menangkap kita?" tanya si nona tertegun. Kontan Pek Jau-hui tertawa geli.

"Memangnya kau sudah melakukan pidana?" ejeknya.

"Kalau begitu mereka datang untuk menangkap kalian?" sekali lagi Un Ji tertegun.

"Aku rasa kehadiran mereka hanya merupakan sebagian dari strategi yang diatur Tio Thiat-leng," kata Ong Siau-sik menjelaskan, "kini para opas sudah berdatangan, kita tak perlu berdiam terlalu lama di tempat ini."

"Betul, lebih baik segera angkat kaki," Pek Jau-hui membenarkan.

Terdengar suara gonggongan anjing, derap kaki kuda dan bentakan manusia berkumandang [...]

bintang73 7 August 9:41   9 Comments
Literature

Golok Kelembutan
6. Secawan arak, tiga nyawa

golok kelembutan.tn.jpg

Un Ji amat sedih.

Selama hidup, belum pernah ia berjumpa dengan seorang lelaki yang begitu tidak menghormatinya, begitu tak memandang sebelah mata terhadapnya, tidak menganggapnya sebagai seorang tokoh, bahkan nyaris tidak menganggapnya sebagai manusia.

Ia merasa sangat terhina, merasa amat sedih.

Melihat lelaki itu masih berdiri dengan sikap angkuh, acuh tak acuh dan jumawa, dia amat membencinya, makin dipandang makin sakit hati.

Pada saat itulah ia mendengar Pek Jau-hui kembali berkata, "Terlepas siapa pun orang itu, yang pasti dia adalah seorang tokoh yang tak boleh dipandang enteng!"

Tio Thiat-leng kembali berpaling ke arah Ong Siau-sik, ujarnya, "Aku lihat kau pun termasuk manusia yang tak boleh [...]

bintang73 7 August 9:36   9 Comments

Statistics

  • 7,094 members • andichen1971 5 hours 26 minutes
  • 227 Articles
  • 201 Reviews
  • 264 Literatures • 4,902 Chapters
  • 592 Catalog Entries
  • 2,001 Forum Threads • 47,024 Posts